Roblox telah menjadi salah satu platform game terbesar di dunia, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Namun, dengan popularitasnya yang terus meningkat, muncul juga berbagai kekhawatiran mengenai keamanan anak-anak di dunia daring.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC, CEO sekaligus salah satu pendiri Roblox, Dave Baszucki, memberikan tanggapannya terkait kekhawatiran orang tua terhadap game ini. Menurutnya, jika orang tua merasa tidak nyaman atau ragu dengan platform ini, maka sebaiknya anak-anak mereka tidak diizinkan bermain.
1. Kontrol Orang Tua Dapat Dimanfaatkan
Baszucki menegaskan bahwa Roblox telah menyediakan berbagai alat kontrol orang tua untuk membantu membatasi akses anak-anak terhadap konten yang tidak sesuai. Ia mengimbau agar para orang tua memanfaatkan fitur tersebut demi memastikan pengalaman bermain yang lebih aman.
Namun, ia juga mengakui bahwa mengasuh anak di era digital bukanlah hal yang mudah. Orang tua mungkin tidak bisa memantau anak-anak mereka setiap saat, bahkan dengan semua kontrol yang sudah diatur.
“Kita semua tahu bahwa sebaik apapun niat kita, hidup terkadang bisa menghalangi,” ujar Baszucki.
Pernyataannya ini mencerminkan realitas bahwa meskipun fitur pengawasan telah tersedia, tantangan terbesar tetap ada pada bagaimana orang tua menggunakannya secara efektif.
2. Investigasi BBC: Konten yang Direkomendasikan untuk Anak-anak
Dalam sesi wawancara tersebut, BBC turut mengungkapkan perhatian terhadap jenis konten yang disarankan untuk akun Roblox milik seorang anak berusia 11 tahun yang fiktif.
- “Late Night Boys And Girls Club RP”
- “Special Forces Simulator”
- “Squid Game”
Meski populer, beberapa game tersebut memiliki konten kekerasan atau tidak sesuai untuk anak-anak, terutama Squid Game yang terkenal dengan adegan-adegan brutalnya.
Isu ini menambah panjang daftar kritik terhadap kurangnya filterisasi konten di Roblox, meskipun perusahaan mengklaim telah meningkatkan pengawasan mereka.
3. Sejarah Kontroversi dan Upaya Perbaikan
Bukan kali ini saja Roblox mendapat sorotan tajam terkait keamanan anak-anak. Sebelumnya, berbagai investigasi telah menemukan kurangnya pengawasan terhadap konten dan interaksi dalam game, yang memungkinkan anak-anak terekspos pada konten tidak pantas dan potensi ancaman dari pelaku kejahatan daring.
Sebagai tanggapan, pihak Roblox terus berusaha untuk meningkatkan sistem keamanan, memperbaiki algoritma rekomendasi, serta membatasi akses ke game yang tidak sesuai untuk anak-anak. Namun, masalah ini tetap menjadi tantangan besar, terutama karena sifat internet yang terus berkembang.
4. Dunia Daring: Seaman Apa untuk Anak-anak?
Internet adalah ruang tanpa batas, di mana informasi dan interaksi dapat terjadi secara luas dan tidak selalu terkontrol. Seperti halnya di TikTok, di mana pengguna sering mengakali sistem sensor dengan mengganti kata-kata sensitif (misalnya, “killed” menjadi “unalived”), hal serupa juga dapat terjadi di Roblox.
Kasus ini menunjukkan bahwa meskipun ada peraturan dan fitur keamanan, selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan, baik oleh anak-anak yang ingin bermain di luar batas yang diperbolehkan, maupun oleh individu dengan niat buruk.
5. Kesimpulan: Peran Orang Tua Masih Sangat Penting
Seiring dengan perkembangan teknologi, semakin banyak platform yang mengklaim ramah anak, tetapi tantangan dan risiko tetap ada. Pengalaman dari game daring seperti Club Penguin di masa lalu menunjukkan bahwa semakin banyak perubahan terjadi, masalah keamanan daring tetap menjadi perhatian utama.
CEO Roblox telah memberikan pandangannya—jika merasa tidak yakin, lebih baik jangan izinkan anak bermain. Namun, pada akhirnya, keputusan dan pengawasan tetap berada di tangan orang tua. Mengandalkan fitur keamanan saja tidak cukup, diskusi terbuka dan keterlibatan aktif dalam aktivitas anak-anak di dunia digital menjadi langkah terbaik untuk memastikan mereka tetap aman saat bermain online.